Ketua Komisi Pemilihan Umum, Abdul Hafiz Anshary menyerang balik para pengkritiknya dengan menuduh mereka menyebarkan kebohongan publik dan orang yang berbahaya bagi proses pemilu.
Hal ini terutama ditujukan Hafiz kepada anggota Komisi III DPR dari PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari atas pernyataannya kepada pers 1 Juli lalu, bahwa ada 49 juta pemilih tercecer dari Daftar Pemilih Tetap (DPT). Hafiz mengatakan KPU telah menyurati Eva kemarin agar dia membuktikan tuduhan serius tersebut.
“Selambat-lambatnya besok serahkan nama-nama yang 49 juta itu. Kalo dia benar ada 49 juta by name, kita siapkan logistiknya. Hari itu juga akan kita proses, Senin kita sampaikan, kalo dia benar. Tapi kalau dia tidak benar, berarti dia melakukan kebohongan publik, dan ini berbahaya bagi pemilu kita,” ujar Hafiz.
Abdul Hafiz tampak emosional saat mengucapkan hal tersebut. Dia meminta semua pihak yang menuduh KPU mengabaikan hak pilih jutaan warga negara sejak pemilu legislatif lalu untuk membuktikan ucapan tersebut dengan data valid.
“Sampai hari ini, puluhan juta yang (dikatakan tidak terdaftar dalam) pilleg, tidak seorang pun sanggup membuktikan. Hanya ngomong doang. Ada kebohongan publik yang bisa meresahkan masyarakat,” katanya.
Hafiz menilai tuduhan Eva tak masuk akal. Karena, jika benar ada 49 juta pemilih tercecer dari 176 Juta DPT yang ada sekarang maka, jumlah DPT seharusnya adalah 225 juta. Padahal, kata dia, jumlah penduduk Indonesia hanya 232 juta.
“Berarti bayi-bayi kita pun akan menjadi pemilih,” katanya.
Meskipun telah berupaya maksimal, Hafiz mengaku tak bisa menjamin DPT sepenuhnya bebas dari masalah. Dia menyebut beberapa usaha KPU untuk memperbaiki DPT adalah dengan melakukan pemutakhiran data, sosialisasi melalui iklan dan himbauan kepada partai politik untuk mendaftar konstituennya.
Dihubungi secara terpisah, Eva Kusuma Sundari mengakui telah menerima surat Ketua KPU kemarin yang memintanya untuk menyerahkan data tersebut.
“Saya nggak akan jawab. Dia bukan juragan saya. Itu urusan Adminduk (Direktorat Jenderal Administrasi Kependudukan),” katanya.
Eva mengatakan, kalau KPU memang yakin DPT tidak bermasalah maka, sebaiknya diumumkan secara terbuka kepada publik
Dia menilai tindakan Ketua KPU kepada dirinya adalah bentuk kepanikan lembaga itu yang sering dikritik masyarakat baik karena kinerja buruk maupun dianggap berpihak kepada calon presiden tertentu.
”Angka 49 juta itu saya peroleh dari Komnas HAM yang mengatakan 25 sampai 45 persen pemilih tidak dapat menggunakan hak pilih pada pemilu legislatif lalu,” katanya.
Eva juga tak dapat menerima tuduhan bahwa dirinya melakukan kebohongan publik sebagaimana disampaikan ketua KPU.
“Akan saya somasi,” ujarnya.
Friday, July 03, 2009
Kisruh DPT Berhenti Pada Wacana
Thursday, January 08, 2009
Akankah Kasus Munir Terungkap??
Pengungkapan kasus pembunuhan aktivis HAM Munir nampaknya akan semakin berat. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan membebaskan Mayor Jenderal Muchdi Purwopranjono dari tuduhan terlibat pembunuhan Munir. Kawan-kawan Munir yang tergabung dalam Kasum menilai kasus ini adalah konspirasi dan harus ditangani dengan sudut pandang itu.
Mereka juga menuding Pejabat Badan Intelijen Negara, termasuk mantan Kepala BIN AM Hendropriyono turut terlibat. Dalam konferensi pers di kantor Kontras 1 Januari lalu, istri Almarhum Munir, Suciwati memampang sebuah poster bertuliskan Tangkap. Di poster itu ada gambar Muchdi, Hendropriyono dan Pollycarpus.
Beberapa hari berikutnya, giliran tim kuasa hukum Muchdi yang mengadakan konferensi pers di Restoran Pulo Dua. Pada kesempatan itu Mahendradatta dan Fadli Zon juga mengakui ada konspirasi dalam kasus ini. Mereka menuding ada pihak yang sengaja ingin menyudutkan institusi BIN dan mengadu domba TNI dan Polri.
Mereka juga menuding presiden Yudhoyono berlebihan menyikapi kasus ini. Tak berhenti di situ mereka menuntut kepolisian memeriksa orang-orang terdekat Munir untuk mengungkap kasus ini. Logikanya, jika ada pembunuhan maka pelakunya adalah orang terdekat korban.
Dalam kesempatan itu, mereka juga membagi-bagikan Majalah bulanan Mahkamah yang menurunkan laporan khusus soal peradilan kasus Munir. Isi majalah itu mirip dan hampir sama dengan materi konferensi pers yang disampaikan.
Saya sedikit bingung karena tak mengikuti sejarah dan perjalan kasus ini sejak awal. Ada banyak kejanggalan yang membingungkan. Saya setuju kasus ini harus diungkap tapi kalau menuruti pikirian konspiratif yang dianjurkan Kasum, jangan-jangan nanti fakta yang ada dicocok-cocokkan dengan pikiran kita. Saya tak mengerti apa dasar menangkap Hendropriyono.
Tapi, saya juga kurang sependapat dengan pendapat yang menyudutkan LSM seperti Kontras dengan tuduhan mereka antek asing, sengaja menjual kasus ini ke Amerika Serikat dan Eropa untuk mendapatkan uang. Apalagi, dengan itu kemudian sentimen nasionalisme dicoba dipantik. Surat anggota kongres AS kepada Presiden juga coba dieksploitisir sedemikian rupa untuk menunjukkan kasus ini diintervensi asing.
Presiden Yudhoyono mengatakan pengungkapan kasus ini sebagai "Test of our history". Saya khawatir kasus ini akan berakhir seperti kasus pembunuhan presiden AS JF Kennedy. Tidak jelas. Hal ini sempat saya sampaikan dalam sebuah obrolan dengan Usman Hamid. "Semoga saja tidak, kita akan tetap berjuang. Meskipun dalam perjuangan itu kita bisa saja kalah. Tapi kita akan tetap berupaya," katanya.
Saya juga merenungkan ucapan Suciwati dalam konferensi pers siang itu. "Saya tidak hanya kehilangan Munir tapi juga kehilangan keadilan itu sendiri," katanya.
Friday, November 14, 2008
The New Yorker Gratis
Pagi ini aku mengunjungi alamat web majalah The New Yorker untuk melihat ulasan mereka tentang kemenangan Obama. Ahaa! rupanya mereka menggratiskan edisi minggu ini dan dapat dibaca secara digital layaknya membaca majalah aslinya. Formatnya dibuat e-paper meskipun kita bisa memilih opsi tampilan yang lain.
Aku suka membaca The New Yorker meski bahasa inggrisku takbagus-bagus amat. Salah satu majalah terhormat dan dihargai di Amerika Serikat itu menerapkan jurnalisme sastrawi yang kupikir sangat bagus untuk dipelajari. Selain itu tentu saja kualitas tulisannya sangat tak meragukan.
Teman-teman yang berminat silahkan segera ke Newyorker.com. Selamat membaca!
Monday, November 03, 2008
Duka
;tentang Kiki
Saya sedang sedih. Sabtu malam sebuah kabar datang dari Jember. Seorang teman asal Malang baru saja ditinggal ayahnya untuk selamanya. Saya turut berduka.
Kami sebenarnya tak terlalu akrab juga tak sering bicara. Tapi saya menghormatinya sebagai seorang rekan. Saya sedikit emosional mendengar kabar itu. Apalagi, dia tengah berjuang merampungkan skripsi. Saya mengerti benar yang dia rasakan. Karena, lebih dahulu merasakan hal yang sama.
Sayang, saya terlalu jauh untuk menepuk pundaknya, menenangkannya. Hanya pesan singkat yang bisa saya kirim dengan penutup demikian;
Luv u, be tough!
Wednesday, October 29, 2008
Hal-Hal Apa yang Perlu Diperdebatkan Oleh Capres 2009?
Satu per satu tokoh nasional mulai mendeklarasikan diri mereka untuk bertarung dalam pemilu presiden 2009. Yang terbaru adalah Sri Sultan Hamengkubuwono X. Sultan menyusul nama lain yang sudah meyatakan diri sebelumnya yaitu Sutiyoso, Megawati Sukarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono.
Di luar nama-nama itu masih ada Wiranto, Prabowo Subianto, Amien Rais, Din Syamsuddin yang juga kemungkinan besar akan maju sebagai calon presiden. Mereka semua bukanlah tokoh baru dalam dunia politik di Indonesia. Meski demikian, belum ada calon alternatif dari golongan muda yang mampu menyaingi ketokohan dan pengaruh mereka.
Karena bukan tokoh baru, publik sebenarnya bisa menilai sekaligus mengkritisi rekam jejak calon-calon itu. Apalagi, semua tokoh tersebut pernah menduduki jabatan strategis di negeri ini. Masyarakat patut bertanya apakah dulu mereka menggunakan jabatannya dengan benar dan apa yang akan mereka lakukan sehingga layak dipilih (kembali) menjadi presiden.
Pintu untuk melakukan ini sebenarnya ada. Rakyat bisa bertanya secara langsung ketika sang calon berkampanye nanti atau melalui mekanisme konstitusional yang diatur dalam undang-undang pemilihan presiden yaitu debat antar calon. Debat antar calon seperti diketahui dalam RUU Pilpres akan dilakukan sebanyak lima kali yaitu tiga kali antar calon presiden dan dua kali antar calon wakil presiden.
Dalam debat yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum itu calon presiden seharusnya ditanya isu-isu yang spesifik dan konkrit. Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat, kandidat Partai Republik John McCain dan calon Partai Demokrat Barack Obama dicecar tentang hal-hal yang nyata seperti penarikan pasukan AS dari Irak, pemotongan pajak, aborsi, pernikahan sesama jenis, sikap terhadap Iran dan Korea Utara dan masalah-masalah ekonomi.
Di sini, KPU sebagai penyelenggara debat bisa memilih isu yang spesifik. Misalnya, sikap calon presiden terhadap semburan Lumpur Lapindo, korupsi, upah buruh, pengangguran atau hal lainnya. Isu-isu yang konkrit akan jauh lebih memudahkan publik untuk menilai kapasitas dan kapabilitas calon daripada menanyakan hal yang mengawang-awang.
Selain sikap terahadap suatu persoalan, latar belakang calon presiden juga penting diketahui untuk melihat mereka seutuhnya baik kelebihan maupun kekurangannya. Menyampaikan ke rakyat secara terbuka tentang kegagalan calon atau keluarganya di masa lalu adalah salah satu alternatif. Dengan catatan, ini tidak dimasukkan dalam kategori kampanye negatif atau pembunuhan karakter. Semangatnya adalah untuk menampilkan profil calon sejujur-jujurnya. Sebagai contoh perceraian, kegagalan menyelesaikan studi di perguruan tinggi, dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia atau dugaan tindak pidana korupsi.
Dengan mengetahui sikap mereka secara tegas, gambaran latar belakang yang jelas walhasil rakyat akan terhindar dari tipu daya yang dampaknya dirasakan selama lima tahun masa kemimpinan presiden. Transparansi ini juga penting sebagai wacana pengimbang terhadap citra "malaikat penyelamat" yang berusaha dibangun melalui iklan di media massa.
Monday, October 20, 2008
Pertemuan
Dua pasang mata saling memandang. Tawa. Cibiran dan sedikit kemanjaan. Tangan membelai rambut yang terurai dihembus angin. Obrolan kecil tentang hal yang tak penting. Apa gerangan yang berharga dari sebuah pertemuan? Apakah pencarian makna ini tak berguna dan usaha menjaring angin?
Aku tak tahu. Dalam tiap pertemuan waktu serasa baru mulai. Sejarah (lebih tepatnya masa lalu dan latar belakang) masih enigma. Anehnya, segala teka-teki justru membuatku tak bisa tidur. Menantikan akhir minggu untuk kembali menapaki jalan menuju jawaban atas semua ini. Meskipun dengan sedikit berdebar, akankah pertanyaanku terjawab tanpa harus bertanya? mengecewakankah?.
Aku ingin menutup mata dan berharap tak melihat mentari esok pagi. Lusa, dan seterusnya. Aku merindukanMU ingin menatap mataMU sekali lagi dan. Untuk selamanya.
Tuesday, October 14, 2008
Belajar Menjadi Wartawan
Konon media online lebih unggul dalam hal ruang untuk memuat tulisan atau berita. Ia dianggap tak terbatas seperti media cetak yang sangat terbatas. Tapi, ketakterbatasan itu seringkali tak terasa ada. Sebab, ideologi portal berita di Indonesia masih, "kalau bisa berita pendek kenapa harus panjang, Kalau bisa dipecah jadi delapan berita kenapa harus jadi satu." Lalu apa artinya ruang selapang itu?
Persoalannya memang tak sederhana. Sejauh portal itu bersifat komersil dan hidup dari iklan maka faktor yang mampu menarik pemasang iklan harus tetap ada. Salah satu faktor itu bernama page views tinggi yang diperoleh tiap kali pembaca mengklik sebuah berita. Jadi, sangat rasional ketika berita panjang dipecah-pecah menjadi berita pendek yang tak utuh. Faktor kedua adalah mengejar kecepatan sehingga berita disajikan sepotong-potong secara kontinu (running).
Sebenarnya ruang tak terbatas itu bisa diisi dengan sebuah narasi, investigasi, feature atau laporan khusus. Namun, semua hal ini belum menjadi prioritas bagi kebanyakan portal. Saya tidak tahu apakah ini persoalan selera pasar, kapabilitas wartawan di media yang bersangkutan yang tak memadai atau faktor lain. Sebab, selain biaya yang lebih tinggi, menyajikan laporan seperti itu juga membutuhkan durasi waktu yang lebih panjang. Ini berarti bertentangan dengan ideologi yang saya sebut di atas.
Konsekuensi yang paling terasa atau yang paling rugi sebenarnya adalah si pelapor. Saya menyebut si pelapor bukan wartawan atau jurnalis sekedar membedakan mana yang tak bisa menulis berita dengan baik, benar dan memikat mana yang bisa. Karena itu, seringkali seorang jurnalis online mengeluh tak puas pada karya atau kemampuan mereka dalam menulis berita yang nyaris jalan di tempat.
Selain itu, deadline yang menghantui tiap detik juga menyebabkan wartawan online mustahil bisa melakukan reportase panjang seperti menyoroti public service (salah satu tema yang dilombakan dalam pulitzer) atau hal serius lainnya. Berita didominasi ucapan politisi, pakar, pengamat dan pejabat.
Okelah, kita anggap itu sebagai permakluman. Tapi bagaimana dengan analisis (fokus) yang sering disajikan media cetak tapi jarang dilakukan online? apa benar-benar karena ketakmampuan? saya kira bukan. Lalu apa? itulah yang ingin saya tanyakan kepada anda..
Friday, October 10, 2008
KANGEN
; untuk T
Aku berhenti sejenak.
Memandangmu dari dekat walau sekejap.
Tiba-tiba kau menoleh dan mengajakku bicara.
Butuh sepersekian detik untuk menjawab karena tersentak.
Ketika berpisah sore tadi aku memutuskan singgah di bawah pohon tua di pinggir jalan itu.
Terpejam ketika mengingat kita berteduh dari rintik sebulan lalu.
Aku menengadah sambil tersenyum pada pelangi.
Membayangkan engkau yang seketika membuatku beku.
Saturday, October 04, 2008
Penat
21.00 WIB. Kakiku melangkah dalam penat ke Katedral manusia modern. Mall. Ransel kotor masih menempel di punggungku. Sebuah keputusan setengah terpaksa sesungguhnya. Tak dinyana aku menemukan sepotong Jazz di segumpal keramaian. Singkat. Tak lebih setengah jam. Tapi seluruh syarafku serasa disetrum. Kepenatan hilang seolah-olah aku tak bekerja seharian ini. Lalu, nostalgia "Jember Jazz Fever" merubungiku.
Jember Jazz Fever adalah event musik satu-satunya yang pernah aku selenggarakan bersama teman-temanku semasa kuliah dulu di Universitas Jember. Ia juga sekaligus pagelaran Jazz pertama di kampus yang dulu bernama Universitas Tawang Alun itu. Kami harus berjuang keras untuk mewujudkannya.
Tak mudah menghadirkan musik yang lebih mewakili kaum urban itu di kampus ndeso kami. Orang jauh lebih suka Reggae, Pop dan Hip-Hop. Ini berdampak pada sponsor yang enggan mengeluarkan duit banyak. Jadilah kami seperti peminta-minta yang memohon sumbangan pembangunan masjid.
Aku ingat betul, Tyas dan Chiki diomelin Pembantu Dekan III Fakultas Pertanian karena keberatan dimintai sumbangan. Tapi toh akhirnya kami berhasil.
Aku sebenarnya tak begitu paham dunia musik. Aku nggak hafal lirik lagu Jazz Indonesia apalagi Barat. Tapi, melihat musisi Jazz menyanyi malam itu, suaranya, ekspresinya seolah merasuk ke dalam jiwaku. Penyanyinya kebetulan seorang perempuan agak tambun.
Ia lebih sering memejamkan mata saat menyanyi. Penuh pengahayatan, santai dan menikmati. Ia tampak tak terbebani sama sekali. Kukira hal itu turut membuatku relax.
Seorang perempuan yang duduk disebelahku kemudian bercerita," Di Pasar Festival, tiap Jumat malam ada Ireng Maulana. Mulai jam setengah tujuh malam sampai setengah sepuluhan," katanya. Aku sebenarnya ingin sekali waktu melawat ke sana.
Sayangnya tiap Jumat ada rapat rutin di kantor. Agaknya izin mangkir rapat untuk menikmati Jazz akan ditolak. Meskipun penolakan itu berarti mengabaikan salah satu unsur terpenting dalam dunia kerja. Hiburan.
Wednesday, October 01, 2008
Mengais Rezeki di Kuburan
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak selalu ramai disambangi peziarah ketika Idul Fitri tiba. Banyak warga yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mengais rezeki.
Ada yang memilih berjualan bunga dan air mawar untuk ditaburi ke atas kuburan. Ada juga profesi dadakan seperti tukang sapu dan pendoa yang akan membaca Surat Yasin ketika makam diziarahi anggota keluarganya. Mereka biasanya tidak mematok harga. Dalam istilah mereka disebut, "Seikhlasnya."
Salah seorang yang menekuni profesi musiman sebagai juru doa yakni Hasan Basrah. Sejak 1997 silam, bila musim lebaran tiba dia sejenak menanggalkan status sebagai tukang Ojek di Cisoka, Tangerang. Dia pergi ke TPU Karet bersama dua orang kawan sprofesinya.
Pria yang akrab disapa Icong ini biasanya langsung mendekati makam yang sedang didatangi peziarah. Dia langsung jongkok dan mengeluarkan sebuah buku kecil yang ditaruh di sakunya yakni Surat Yasin.
"Mau dibacain Surat Yasin, bu?" Tanya Icong kepada rombongan keluarga yang sedang menziarahi makam salah satu anggota keluarganya, Rabu (1/10/2008).
Si Ibu mengangguk tanda setuju dan lantunan doa pun mengalir dari mulut Pak Icong.
"Yang ini, (sambil menunjuk kuburan) butuh didoakan, yang hidup lebih membutuhkannya lagi," katanya dengan mimik serius.
Sambil melafalkan ayat-ayat suci, Icong kerap menyeka wajah dengan sorban yang dilingkarkan di leher. Matanya tampak berkaca-kaca.
Usai membaca doa dia bangkit berdiri. Si Ibu menyalami sambil memberi uang. Tanpa melihat jumlah uang yang di berikan, Icong langsung memasukkannya ke dalam saku. Sesaat kemdian ia mengeluarkannya dan membaginya dengan dua kawannya yang lain. Masing-masing mendapatkan Rp5.000.
"Bila sedang beruntung ada juga yang ngasih Rp100 ribu, bahkan kadang Rp200 ribu. Mungkin sekalian sadaqah karena dia punya rezeki," katanya.
Icong mengaku dalam sehari ia bisa mengantongi uanga senilai Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. Jumlah ini cukup besar dibanding pendapatannya sebagai tukang ojek yang tak lebih hanya Rp70.000 per hari.
Dalam usianya yang ke-59, Icong mengaku senang menjalani profesi tersebut meskipun hanya musiman. Di akhir pembicaraan dia mengungkapkan harapannya pada delapan anaknya.
"Saya ingin ketika kelak sudah di sini, (kembali menunjuk kuburan) saya juga didoakan anak-anak saya," katanya sambil menyeringai.
